SANTAPAN HARIAN KELUARGA Edisi 01 Desember 2024, Mikha 7 : 7 - 13, Berharap Pada Allah yang Menyelamatkan
#shkgpmedisi01desember2024,
Tanpa
terasa katong sudah ada di Minggu Pertama Desember dan diperkenankan Tuhan
untuk memasuki dan merayakan minggu adventus I.
Kita
bersyukur sebab Allah telah menyelamatkan kita dan didalam rencana karya penyelamatan
itulah kita terus berharap, memiliki harapan dan menaruh harap.
Tema
pemberitaan minggu I adalah Berharap pada Allah yang menyelamatkan.
Apa
itu berharap?
Berharap
adalah berpikir atau memikirkan masa depan yang yang kita inginkan dengan
disertai dorongan untuk bertindak. Saya tentu berpikir tentang masa depan saya,
masa depan keluarga saya. Begitu juga dengan bapak dan ibu, saudara sekalian. Kita semua tentunya berpikir tentang masa depan yang kita
inginkan. Dan masa depan yang kita inginkan adalah masa depan kita atau masa
depan orang-orang kekasih kita menjadi menjadi masa depan yang baik, masa depan
yang sukses, yang berhasil, yang bahagia maka keinginan seperti itu harus
disertai dengan upaya untuk melakukan sesuatu. Orang tidak mungkin ingin masa
depannya baik tapi hari ini ia terus melakukan yang tidak baik, terus melakukan
yang tidak baik padahal dia diberitahu bahwa itu tidak baik dan dia sendiri
tahu itu tidak baik akan tetapi tindakan-tindakannya tetap mencerminkan yang
tidak baik. Atau, ingin masa depan sukses, tapi hari ini tidak mau belajar
dengan giat, tidak mau berusaha, bekerja keras. Hari ini hanya
pikir main-main saja, santai-santai saja, nongkrong saja, tidur-tiduran saja.
Masa
depan itu ditentukan sejak dini tatakala kita sadar bahwa waktu hari ini harus
dimanfaatan sebaik mungkin bahkan sadar bahwa ada yang tidak baik yang harus
ditinggalkan maka bertobat adalah pilihan. Itulah berharap.
Minggu
ini tema kita mendorong kita untuk berharap/menaruh harap pada Allah yang menyelamatkan.
Bahwa apapun yang kita inginkan dan kita lakukan kita letakkan semuanya pada
Allah yang telah dan akan terus menyelamatkan kita. Artinya, kalau kita
inginkan masa depan kita menjadi lebih baik maka seluruh Upaya kearah itu kita
lakukan sebagaimana yang Allah kehendaki. Salah satunya hari ini, keluarga
Hukom-Keliduan bawa anak mereka, Adriela Mathilda Hukom untuk dibaptis. Bersama
para saksi, mereka sadar bahwa masa depan adriela sebagai ahli waris Kerajaan
Allah adalah dengan membawanya untuk air baptisan sebagai tanda dan meterai
bahwa ia diterima sebagai anak-anak Allah dan pewaris Kerajaan Allah dan
menerima karunia Roh Kudus dan akta ini akan diteruskan dalam kehidupan nyata
mereka untuk terus membawanya kepada Allah pada setiap waktu dan kesempatan
agar keselamatan yang telah Allah kerjakan ini terus dialami dan tidak jauh
dari hidupnya. Itulah maksudnya berharap pada Allah yang menyelamatkan.
Tema berharap pada
Allah yang menyelamatkan ini didasarkan pada Mikha 7 : 7 – 13.
Realitas yang mendorong Mikha 7 ayat 7 – 13 ini adalah
bahwa Pada zaman Mikha, ada begitu banyak kejahatan dan penyelewengan. Para
Pemimpin dan Penduduk Samaria dan Yerusalem secara moral sakit. Mereka
menyembah ilah lain dan memperlakukan orang miskin dengan tidak adil. Karena
itu Mikha hadir dan berani untuk menentang dengan menegaskan bahwa mereka akan
hancur.
Samaria
dan Yerusalem akan hancur, sama seperti yang diharapkan para musuh seperti
Asyur dan Edom ketika mereka berkata: Dimanakah Tuhan Allahmu itu? Namun menurut
Mikha dengan nubuatnya, kehancuran bukan kata akhir dari Allah. Uniknya Allah
Israel adalah bahwa Ia akan bertindak
sebagai hakim untuk menghakimi, tetapi Ia tetap peduli kepada umatNya. Sebab setelah
mereka bertobat dan kembali kepadaNya maka Ia akan menyelamatkan mereka. Ia akan
mengembalikan mereka seperti dulu. Karena itu mereka diingatkan untuk terus
berharap kepadaNya. Berharap kepada Allah yang akan bangkit untuk melawan dan
mempermalukan para musuh dengan kuasa dan kekuasaan mereka dan ini akan jadi
pemandangan yang memuaskan hati orang-orang yang menaruh harap padaNya. Mereka
yang berharap padaNya akan diberikan kesempatan untuk membangun Kembali
Kerajaan Daud yang telah roboh. Ini cerminan kebaikan dan kasih karunia Tuhan
yang membawa umatNya ke dalam pengharapan dan pemulihan.
Maka
bersama-sama, kita bersyukur karena kita diberikan kesempatan untuk memasuki
minggu-minggu adven sambil tetap mempercayakan hidup kepada Tuhan yang telah
anugerahkan keselamatan serta terus berkomitmen untuk menghadapi apapun
realitas pergumulan kita dengan sikap iman yaitu hidup dalam kasih, dalam
kebenaran, dalam keadilan dan dalam kedamaian.
Semoga minggu-minggu adventus ini menjadi momentum perenungan dan refleksi tentang hidup kita di hadapan Tuhan dan dalam relasi dengan sesama sambil terus menyadari akan salah dan dosa dan membenahi diri supaya hidup kita berkenaan kepadaNya dan selalu menjadi bekat bagi kemuliaan NamaNya. Tuhan memberkati. (AF).
